cursor

Jumat, 12 November 2010

FOTO: Sebelum dan Sesudah Letusan Merapi

 
Kawasan Kaliadem di Kelurahan Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, sebelum dan sesudah letusan Gunung Merapi, Kamis (28/10/2010).
— Foto kiri merupakan kawasan obyek wisata Kaliadem di Kelurahan Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, sehari sebelum meletus dan memuntahkan awan panas, Senin, 25 Oktober. Sedangkan foto kanan, kawasan yang sama pasca-letusan Gunung Merapi, Kamis (28/10/2010).
Gunung berapi ini meletus dan memuntahkan awan panas yang menewaskan 32 orang dan menghancurkan ratusan rumah di lerengnya.

Kamis, 11 November 2010

Letusan Merapi Lebih Besar Dibandingkan Letusan 1872

Letusan Merapi Lebih Besar Dibandingkan Letusan 1872

Letusan Merapi Lebih Besar Dibandingkan Letusan 1872
Gunung Merapi terus menyemburkan material dan awan panas terlihat dari kawasan Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (7/11). (ANTARA/Wihdan Hidayat)
Yogyakarta (ANTARA News) - Letusan Gunung Merapi pada 2010 lebih besar dibandingkan dengan letusan gunung tersebut lebih dari 100 tahun lalu atau pada 1872.

"Jika diukur dengan indeks letusan, maka letusan pada 2010 ini lebih besar dibanding letusan Merapi yang pernah tercatat dalam sejarah yaitu pada 1872," kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Subandriyo di Yogyakarta, Selasa.

Menurut dia, salah satu indikator untuk menentukan besar indeks letusan adalah dari jumlah material vulkanik yang telah dilontarkan.

Pada letusan 1872, jumlah material vulkanik yang dilontarkan Gunung Merapi selama erupsi mencapai 100 juta meter kubik.

Sementara itu, hingga kini jumlah material vulkanik yang telah dimuntahkan Gunung Merapi sejak erupsi 26 Oktober hingga sekarang diperkirakan telah mencapai sekitar 140 juta meter kubik dan aktivitas seismik gunung tersebut belum berhenti.

"Sebagian besar material vulkanik itu mengarah ke Kali Gendol dan kini bagian atas sungai tersebut telah dipenuhi oleh material vulkanik," katanya.

Oleh karena itu, lanjut dia, ancaman banjir lahar di sejumlah sungai berhulu Gunung Merapi sangat mungkin terjadi.

BPPTK, lanjut dia, mencoba memantau dari udara dengan foto udara, namun masih terus menganalisis hasil foto tersebut.

"Ada beberapa kendala saat pelaksanaan foto udara tadi, yaitu kolom asap yang masih cukup tebal sehingga menghalangi pandangan untuk melihat kondisi puncak Merapi," ujarnya.

Berdasarkan hasil pemantauan hingga pukul 12.00 WIB, masih terjadi gempa tremor secara beruntun yang mengindikasikan adanya aktivitas magma di dalam tubuh gunung.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono mengatakan, ada beberapa ahli vulkanologi dan geologi dari negara asing yang ingin membantu memantau aktivitas Merapi.

"Kami persilakan saja. Merapi adalah sebuah laboratorium dunia, sehingga siapapun bisa melakukan penyelidikan, apalagi letusan Merapi tidak terjadi satu tahun sekali," katanya.

Sejumlah ahli vulkanologi dan geologi asing tersebut berasal dari Jepang, Amerika Serikat dan juga Prancis.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif mengimbau masyarakat tetap mengikuti instruksi pemerintah untuk berada di radius aman yaitu 20 kilometer (km) dari puncak Gunung Merapi.

Selain itu, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas di jarak 500 meter dari tiap sisi sungai, khususnya sungai yang berhulu di Gunung Merapi untuk menghindari bahaya lahar dingin.

Berdasarkan data BNPB, jumlah korban yang meninggal dunia akibat letusan Gunung Merapi sejak 26 Oktober telah mencapai 151 orang yang terdiri atas 135 orang di DIY dan 16 orang di Jawa Tengah dan total pengungsi mencapai 320.090 jiwa.

Letusan Gunung Merapi tersebut juga merusak 291 rumah, satu tanggul jebol di Desa Ngepos akibat luapan lahar dingin. (*)